Kelompok Pengembangan (Kelbang) Wonogiri 3 terus menunjukkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai program sosial, edukasi, dan pemberdayaan. Dari sekian banyak kegiatan yang telah dilakukan, seperti Posyandu Balita dan Lansia, Edukasi & Kreasi Totebag Tie Dye, Kreasi Kolase TK Bulusulur, hingga Branding dan Konten Promosi UMKM, salah satu program unggulan yang mencuri perhatian adalah Sosialisasi Pembuatan Komposter.
Program ini dirancang sebagai upaya mengurangi volume sampah organik rumah tangga sekaligus mengajarkan keterampilan praktis bagi warga untuk mengolahnya menjadi pupuk kompos yang bermanfaat. Selain berdampak pada lingkungan yang lebih bersih dan subur, kegiatan ini juga sejalan dengan tujuan SDGs poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Pelaksanaan Program
Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 27 Juli 2025, bertempat di Masjid Al-Kautsar, Bulusari, RT 04/03, Bulusulur. Sebanyak 16 warga yang terdiri dari ibu rumah tangga dan bapak-bapak turut serta dalam kegiatan ini.
Antusiasme terlihat jelas ketika warga dengan sukarela membawa limbah organik dari rumah masing-masing. Tim Kelbang Wonogiri 3 tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga praktik langsung pengolahan sampah organik menjadi kompos. Sebagai bentuk dukungan, warga mendapatkan tiga unit komposter dan 25 botol cairan dekomposer gratis.
Program ini dinilai berhasil hingga 90%, dengan ketercapaian indikator yang sesuai target dan respon positif dari masyarakat.
Kendala dan Solusi
Meskipun berjalan lancar, kegiatan ini tidak lepas dari kendala. Menurut Ferdiansyah Adi Pratama, Koordinator Kelbang Wonogiri 3, keterbatasan kehadiran anggota menyebabkan pembagian tugas kurang merata.
Namun, hal tersebut dapat diatasi melalui perencanaan matang sejak awal, koordinasi intensif dengan pihak terkait, serta pembagian kerja yang lebih terstruktur. Strategi ini membuat pelaksanaan program tetap berjalan sukses.
Dampak dan Harapan
Melalui sosialisasi ini, warga memperoleh ilmu baru tentang cara mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos yang ramah lingkungan. Lebih dari itu, program ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran kolektif bahwa sampah organik dapat bernilai ekonomis dan bermanfaat bagi pertanian lokal.
Dengan dukungan pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta partisipasi aktif warga, program ini berpotensi berkembang menjadi gerakan pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan. Keberhasilan awal ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat Wonogiri untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, produktif, dan lestari.
Peulis: Qory Salsabila Wildani, Alimatuz Zahidah, Ludfiyah Nuzully